Saturday, April 17, 2021

Ayung Notonegoro, Menyingkap Sejarah di Balik Aksara Pegon

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO----Pendiri Komunitas Pegon Ayung Notonegoro

Keberadaan Komunitas Pegon memberi warna tersendiri dalam kehidupan generasi muda di Banyuwangi. Di tengah kemajuan Banyuwangi, nilai-nilai yang tersimpan dalam naskah-naskah kuno tetap lestari.

Sebuah kitab kuno yang ada di meja, dibuka perlahan. Tangan yang sudah dibalut menggunakan sarung tangan lateks mengeja perlahan kata per kata aksara pegon. Dari aksara-aksara tersebut Ayung Notonegoro (31) mencoba menguak sebuah kisah yang mungkin berguna bagi masa depan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pegon berarti aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa, atau tulisan Arab yang tidak diberi tanda-tanda (diakritik). Aksara pegon kerap disebut tulisan Arab gundul. Pegon Jawa, huruf vokalnya menggunakan huruf bukan harakat. Berbeda dengan pegon Melayu, yang huruf vokalnya menggunakan harakat.

Tuesday, October 27, 2020

Sirun Herman Manan, Menjaga Apotek Hutan

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO----Sirun Herman Manan menunjukkan bagian tanaman obat, Kamis (22/10/2020), di Desa Tambak, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Agar hutan yang menjadi sumber obat masyarakat Dayak tetap lestari, ia menggerakkan warga untuk melindungi hutan.

Hutan di Kalimantan Tengah bukan sekadar belantara, tetapi menyimpan ribuan jenis tanaman obat. Hal itu disadari oleh Sirun (72), ahli tanaman obat Dayak yang hanya lulusan sekolah rakyat.

Bagi Sirun Herman Manan (72), hutan adalah surga tanaman obat. Dari dalam hutan ia mencari dan meramu tanaman menjadi obat herbal untuk meredakan sakit gigi, demam, keputihan, hingga serangan jantung. Tak berhenti di situ, ia juga menyebarkan ”virus” menjaga hutan.

Wednesday, October 14, 2020

Sururi, Penjaga Benteng Alam Pesisir Semarang

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA---Sururi (62), pelestari mangrove, di tempat pembibitan mangrove yang dikelolanya, di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (25/9/2020).

Akhir 1990-an, pembukaan tambak besar-besaran turut memicu abrasi di pesisir utara Kota Semarang. Enggan berpangku tangan, Sururi (62) berjuang membentengi pesisir dengan mangrove.

Akhir 1990-an, pembukaan tambak besar-besaran turut memicu abrasi di pesisir utara Kota Semarang. Namun, saat lahan-lahan tambak kian tenggelam akibat air pasang, para pengusahanya pergi, meninggalkan alam yang rusak. Enggan berpangku tangan, Sururi (62) berjuang membentengi pesisir dengan mangrove.

Thursday, September 24, 2020

Suparedy Memuliakan Purun, Menyejahterakan Warga

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI---Suparedy  memuliakan purun sehingga bisa menjadi sandaran ekonomi warga Desa Menang Raya, Pedamaran, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Tak ingin desanya kembali terbakar Suparedy (60) berupaya untuk memuliakan purun. Dengan menjadikan purun sebagai sandaran ekonomi warga, mereka pun berusaha untuk terus menjaga gambut.

Suparedy adalah Kepala Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Tanpa segan, dia berkeliling pameran produk dari lahan gambut yang ada di kantor Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Sumatera Selatan di Palembang, Jumat (11/9/2020).

Wednesday, September 23, 2020

Achmad Jais Ely, Pencetak Pelaut Kelas Dunia dari Ambon

KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERIN---Achmad Jais Ely, anak nelayan di Ambon yang berhasil menjadi pelaut sukses. Ia juga ikut melahiran pelaut muda dari Ambon.

Achmad Jais, pelaut berpengalaman yang melahirkan pelaut-pelaut muda andal dari Ambon, Maluku.

Achmad Jais Ely lahir dari keluarga nelayan tradisional di pesisir Pulau Ambon, Maluku. Tumbuh dalam lingkungan nelayan berpendapatan rendah membuat dirinya bermimpi menjadi pelaut sukses. Ia tidak hanya mampu mewujudkan mimpinya, tapi juga mampu melahirkan ratusan pelaut yang kini berlayar di berbagai belahan dunia.

Friday, September 18, 2020

Farid Bachmid Mengangkat Derajat Warga Putus Sekolah di Pulau Gangga

KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI---Pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tut Wuri Handayani, Farid Bachmid (57), memberikan arahan tentang pelatihan pembuatan abon cakalang kepada warga Desa Gangga II di Pulau Gangga, Kecamatan Likupang Barat, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Minggu (30/8/2020). PKBM besutan Farid adalah menjadi tempat utama bagi warga yang putus sekolah untuk mendapatkan ijazah pendidikan setara SD, SMP, dan SMA.

Farid Bachmid kembali ke kampung halaman untuk membantu masyarakat Pulau Gangga mendapat pendidikan yang layak. Dia tak mau setengah-setengah memberikan fasilitas pendidikan untuk meningkatkan derajat kehidupan warga.

Wednesday, September 9, 2020

Mahgodi Idris, Menyulap Kampung Kumuh Jadi Berwarna

 ----Berbekal pengalamannya menjadi seorang fotografer di sebuah media daring di Palembang, Sumatera Selatan, Mahgodi Idris (40) menyulap Kampung Cempaka, yang dulunya kawasan kumuh menjadi kampung warna nan menawan. Inisiatifnya itu bahkan membawanya bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan menginspirasi kampung lain di sekitarnya.

Mahgodi Idris (40) menyulap Kampung Cempaka yang kumuh menjadi kampung yang berwarna dan punya daya tarik bagi pelancong.

Mahgodi Idris (40) menyulap kampung yang tadinya kumuh menjadi lebih berwarna. Inisiatifnya menginsipirai kampung lain di sekitarnya dan mengantarkan ia bertemu bertemu Presiden Joko Widodo.

Thursday, September 3, 2020

Sutopo, Mengayuh Becak Sambil Menularkan Kebiasaan Membaca


KOMPAS/HARIS FIRDAUS---Pengelola becak pustaka, Sutopo (73), membaca majalah sambil menunggu penumpang di Jalan Tentara Pelajar, Kota Yogyakarta, Rabu (12/8/2020). Selain untuk mengangkut penumpang, becak milik Sutopo ini juga digunakan untuk membawa buku-buku aneka jenis yang bisa dibaca atau dipinjam oleh siapa saja tanpa harus membayar.

Sambil bekerja sebagai pengayuh becak, Sutopo (73) tekun menularkan kegemaran membaca buku. Setiap hari, dia membawa ratusan buku di becaknya yang bisa dibaca dan dipinjam oleh siapa saja secara cuma-cuma.

Tuesday, September 1, 2020

Uminatus Sholikah Memperjuangkan Perempuan Nelayan Demak

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA---Uminatus Sholikah saat ditemui di Desa Morodemak, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Selasa (1/9/2020). Selama lebih dari dua tahun, Uminatus memperjuangkan perempuan nelayan lebih mandiri dan memiliki kartu asuransi.

Uminatus Sholikah tak berhenti memperjuangkan nasib para perempuan nelayan di Demak. Selama lebih dari dua tahun, dia berupaya perempuan nelayan bisa mandiri dan mendapat asuransi.

Sejumlah perempuan di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, bertaruh nyawa di lautan bersama suami guna memenuhi kebutuhan ekonomi. Namun, butuh perjalanan berliku untuk diakui dan mengakses asuransi nelayan. Uminatus Sholikah (39) rela mendermakan tenaganya agar hak mereka terpenuhi.

Monday, August 31, 2020

Basiri Membangun Pertanian Hidroganik


KOMPAS/DEFRI WERDIONO---Basiri (47) berdiri di sela padi IR-64 berumur satu bulan yang ia tanam menggunakan sistem hidroganik di Desa Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (6/8/2020).

Basiri mengembangkan pertanian terpadu hidroponik dan organik (hidroganik) di Malang. Dia juga mengajari para petani secara gratis dan mengajak anak muda untuk mau menekuni pertanian.

Basiri (47) tak mau tinggal diam melihat lahan pertanian yang semakin sedikit. Sejak enam tahun lalu, dia mengembangkan pertanian terpadu hidroponik dan organik (hidroganik). Dia mendirikan Bengkel Mimpi, tempat belajar pertanian hidgroganik.

Saturday, August 15, 2020

Moch Dirhamsyah, Merawat Ingatan tentang Pekalongan

KOMPAS/ANDREAS MARYOTO---Suasana Stasiun Pekalongan, Jawa Tengah. Dalam salah satu novelnya, Mas Marco Kartodikromo menceritakan salah satu tokohnya makan di stasiun ini ketika kereta berhenti di tempat ini.

Setelah mencoba berbagai tipe pekerjaan, Moch Dirhamsyah akhirnya kecemplung dunia jurnalisme. Di sini ia menemukan jalannya untuk melestarikan memori tentang kota kelahirannya, Pekalongan, Jawa Tengah.

Kegemarannya membaca buku dan mendengarkan radio sejak kecil membawanya kepada dunia jurnalisme. Tidak sampai di sini saja, jurnalisme menjadi pintu masuk Moch Dirhamsyah (49) untuk merawat sejarah kota kelahirannya, yaitu Pekalongan, Jawa Tengah.

Tuesday, August 4, 2020

Mohammad Afifi Romadhoni, Dokter ”Spesialis” Kesehatan Santri

ARSIP PRIBADI---Dokter Mohammad Afifi Romadhoni (28), pendiri Gerakan Pesantren Sehat (GPS) di Jambi. GPS adalah sebuah komunitas nonprofit yang melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan kepada para santri di Jambi.

Mohammad Afifi tahu bagaimana kondisi pesantren, khususnya di Jambi. Santri hidup komunal dan biasa bertukar handuk atau pakaian. Lewat Gerakan Pesantren Sehat, Afif mengampanyekan cara sehat tinggal di pesantren.

Pahit manis hidup di pesantren begitu membekas dalam kenangan Mohammad Afifi Romadhoni (28). Setelah menjadi dokter umum, Afif mendirikan Gerakan Pesantren Sehat di Jambi pada 2017 untuk mendorong peningkatan lingkungan pesantren yang bersih dan sehat meski penghuninya ribuan orang.

Sunday, July 26, 2020

Dicky Senda Mewujudkan Mimpi Dari Mollo

KOMPAS/ARSIP ARMYN SEPTIEXAN---Dicky Senda, penggagas komunitas Lakoat.Kujawas. Kewirausahaan sosial warga Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara,Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Dicky Senda menyakini bahwa mimpi paling baik harus dimulai dari rumah sendiri. Kini benih-benih mimpi itu tumbuh dan berkembang melalui komunitas kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas.

Mollo memanggilnya pulang. Demikian kecamuk di dalam pikiran Dicky Senda (33) sebelum bulat untuk menetap di kampung halamannya. Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Kawasan di lereng Gunung Mutis, yang kaya potensi alam dan kearifan lokal.


Thursday, July 23, 2020

Yusnadi Gunawan Berbagi Ilmu Budidaya Hidroponik

ARSIP PRIBADI YUSNADI GUNAWAN---Yusnadi Gunawan membagikan ilmu budidaya hidroponik dengan sistem daring secara gratis.

Tinggalkan seminar pelatihan hidroponik yang ujung-ujungnya hanya diminta membeli alat hidroponik, bahkan janji pendampingan menanamnya. Kreativitas Yusnadi Gunawan menciptakan sekolah hidroponik secara gratis.

Yusnadi Gunawan (50) membagikan ilmu budidaya tanaman hidroponik secara gratis. Peserta yang mengikuti pelajarannya cukup memberikan foto-foto perkembangan hidroponik di rumah masing-masing. Saat ini, hidroponik semakin diminati untuk mengisi waktu saat berada di rumah saja.


Wednesday, July 22, 2020

M Taufiq Shaleh Saguanto, Bangkit dengan Sampah Plastik

KOMPAS/DEFRI WERDIONO---M Taufiq Shaleh Saguanto menunjukkan hasil karya seni yang ia buat menggunakan plastik bekas di museum miliknya, Kamis (16/7/2020).

Dengan sampah plastik, M Taufiq Shaleh Saguanto bangkit dari keterpurukan akibat bisnis keluarga yang bangkrut.

Empat tahun lalu, M Taufiq Shaleh Saguanto (41) mulai memanfaatkan plastik bekas menjadi benda seni menarik. Hingga kini, ratusan karya telah ia hasilkan. Sebagian di antaranya ”mengisi” Museum Hot Bottles Recycle Company yang ia dirikan dua tahun lalu, sebagai wahana edukasi tentang daur ulang plastik bekas untuk siapa saja.


Sunday, July 12, 2020

Akhmad Arifin, Sosok di Balik Gerakan Sedekah Oksigen di Kalsel

KOMPAS/JUMARTO YULIANUS--Akhmad Arifin (62), pegiat lingkungan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (5/7/2020).

Akhmad Arifin (62) bersedekah pada alam dengan menanam ribuan batang pohon di Kalimantan Selatan.

Bertahun-tahun jadi pemandu wisata alam petualangan di Kalimantan Selatan membuat Akhmad Arifin (62) sangat mencintai alam. Ia pun aktif menggerakkan masyarakat untuk ”menyedekahkan” oksigen kepada alam lewat penanaman pohon.