KOMPAS/VINA OKTAVIA---Slamet Riyadi, Koordinator Wilayah Program Keluarga Harapan Lampung, saat ditemui di Bandar Lampung, Lampung, Selasa (30/6/2020).
Slamet Riyadi berusaha membantu para lulusan SMA di Lampung untuk mendapat beasiswa. Pengalaman mencari beasiswa saat menempuh pendidikan tinggi dipakai untuk menghidupkan Gerakan Ayo Kuliah.
Bagi Slamet Riyadi (36), pendidikan adalah kunci penting untuk mengubah nasib seseorang. Selama tiga tahun, dia berusaha mewujudkan mimpi anak-anak dari keluarga prasejahtera untuk bisa mengenyam bangku kuliah.
Tuesday, July 7, 2020
Tuesday, June 30, 2020
Suriani dan Nursiah, Suami-Istri Pioner Kampung Permainan Tradisional
KOMPAS/JUMARTO YULIANUS---Muhammad Suriani (64) dan Siti Nursiah (61), pionir Kampung Permainan Tradisional Banua (KPTB) Pendamai di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (20/6/2020).
Pada era serba digital seperti sekarang, Suriani dan Nursiah mendirikan kampung permainan tradisional di sebuah gang di Banjarmasin. Apa tujuan mereka?
Muhammad Suriani (64) dan Siti Nursiah (61), pionir Kampung Permainan Tradisional Banua (KPTB) Pendamai di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (20/6/2020).
Permainan tradisional hampir tak lagi mendapat tempat di dunia anak zaman sekarang. Padahal, permainan itu sangat penting sebagai sarana bersosialisasi dan pembentukan karakter anak-anak. Berangkat dari keprihatinan itulah pasangan suami-istri, Muhammad Suriani (64) dan Siti Nursiah (61) menggagas pembentukan kampung permainan tradisional di Banjarmasin.
Pada era serba digital seperti sekarang, Suriani dan Nursiah mendirikan kampung permainan tradisional di sebuah gang di Banjarmasin. Apa tujuan mereka?
Muhammad Suriani (64) dan Siti Nursiah (61), pionir Kampung Permainan Tradisional Banua (KPTB) Pendamai di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (20/6/2020).
Permainan tradisional hampir tak lagi mendapat tempat di dunia anak zaman sekarang. Padahal, permainan itu sangat penting sebagai sarana bersosialisasi dan pembentukan karakter anak-anak. Berangkat dari keprihatinan itulah pasangan suami-istri, Muhammad Suriani (64) dan Siti Nursiah (61) menggagas pembentukan kampung permainan tradisional di Banjarmasin.
Wednesday, June 24, 2020
Syahiq Harpi, Pendekar Kekinian dari Condet
ARSIP PRIBADI---Pendiri River Ranger Jakarta, Syahiq Harpi (31)
Syahiq menggerakkan banyak orang untuk memperbaiki lingkungan Condet yang telah berubah.
Syahiq Harpi (31) resah ketika menyaksikan perubahan drastis Condet menjadi permukiman padat penduduk tanpa memerhatikan keseimbangan alam. Ia pun mulai bergerak dengan cara yang paling sederhana. Syahiq mendirikan River Ranger Jakarta untuk membersihkan sampah di bantaran sungai sekaligus memberdayakan masyarakat setempat.
Syahiq adalah seorang pemuda yang bertempat tinggal di bagian dataran atas sekitar 500 meter dari Sungai Ciliwung, tepatnya di Jalan Kayu Manis Condet, Balelambang, Kramatjati. Tak jauh dari rumahnya, terletak Gang Astawana. Syahiq menyaksikan banyak orang dewasa di situ hidup tanpa pegangan sehingga menghabiskan waktu tanpa manfaat. Anak-anak akhirnya meniru kelakuan itu.
Syahiq menggerakkan banyak orang untuk memperbaiki lingkungan Condet yang telah berubah.
Syahiq Harpi (31) resah ketika menyaksikan perubahan drastis Condet menjadi permukiman padat penduduk tanpa memerhatikan keseimbangan alam. Ia pun mulai bergerak dengan cara yang paling sederhana. Syahiq mendirikan River Ranger Jakarta untuk membersihkan sampah di bantaran sungai sekaligus memberdayakan masyarakat setempat.
Syahiq adalah seorang pemuda yang bertempat tinggal di bagian dataran atas sekitar 500 meter dari Sungai Ciliwung, tepatnya di Jalan Kayu Manis Condet, Balelambang, Kramatjati. Tak jauh dari rumahnya, terletak Gang Astawana. Syahiq menyaksikan banyak orang dewasa di situ hidup tanpa pegangan sehingga menghabiskan waktu tanpa manfaat. Anak-anak akhirnya meniru kelakuan itu.
Sunday, June 21, 2020
Safhira Alfarisi Mandiri dengan Beasiswa Pendidikan
ARSIP PRIBADI---Safhira Alfarisi, Pendiri Beasiswa 10.000
Safhira Alfarisi tak ingin generasi muda tidak memiliki kesempatan meraih pendidikan setinggi mungkin. Dia pun mendirikan Beasiswa 10.000 untuk memberikan banyak peluang bagi anak muda.
Safhira Alfarisi (21) menganggap pendidikan jadi kunci penting untuk mengubah nasib seseorang. Selama tiga tahun, dia berusaha mewujudkan mimpi mahasiswa belajar ke luar negeri. Harapannya, anak muda yang ingin belajar tak lagi terkendala biaya.
Saat pandemi Covid-19, Safhira sering menjadi pembicara di acara daring. Dia memanfaatkan grup Whatsapp ataupun webinar untuk membuat programnya sendiri. Dia mematok biaya seminar Rp 25.000 supaya bisa dijangkau anak muda dari keluarga tidak mampu.
Safhira Alfarisi tak ingin generasi muda tidak memiliki kesempatan meraih pendidikan setinggi mungkin. Dia pun mendirikan Beasiswa 10.000 untuk memberikan banyak peluang bagi anak muda.
Safhira Alfarisi (21) menganggap pendidikan jadi kunci penting untuk mengubah nasib seseorang. Selama tiga tahun, dia berusaha mewujudkan mimpi mahasiswa belajar ke luar negeri. Harapannya, anak muda yang ingin belajar tak lagi terkendala biaya.
Saat pandemi Covid-19, Safhira sering menjadi pembicara di acara daring. Dia memanfaatkan grup Whatsapp ataupun webinar untuk membuat programnya sendiri. Dia mematok biaya seminar Rp 25.000 supaya bisa dijangkau anak muda dari keluarga tidak mampu.
Tuesday, June 16, 2020
Ardiati dan Sulastama Raharja, Gotong Rotong dengan Cantelan Sembako
Gotong royong untuk membantu masyarakat terdampak pandemi Covid-19 bergema di mana-mana. Ardiati dan Sulastama menggemakan gotong royong dengan modal cantelan sembako di 22 provinsi.
Ardiati di Yogyakarta dan Sulastama Raharja di Riau bertemu secara virtual. Jarak yang sangat jauh tidak menyulitkan mereka untuk menginisiasi gotong royong membantu orang terdampak pandemi. Ardiati menginisiasi cantelan sembako di rumahnya, sementara Sulastama mendorong orang untuk menduplikasi cantelan itu hingga di sejumlah provinsi.
Tuesday, June 9, 2020
Andhika Mahardika, Mengejar Nilai Tambah Rempah
KOMPAS/HARIS FIRDAUS---Andhika Mahardika dengan spesimen rempah-rempah
Lewat rempah-rempah, Andhika Mahardika memberdayakan sekitar 300 petani di beberapa daerah.
Andhika Mahardika (31) tidak terpesona dengan kemegahan kota besar. Ia memilih tinggal dan mengabdi di desa. Bersama istri dan sejumlah temannya, ia merintis program pemberdayaan petani rempah untuk menciptakan kesejahteraan bersama.
Andhika merupakan pendiri Agradaya, sebuah lembaga yang fokus memberdayakan petani. Lembaga yang dirintis sejak 2014 itu bermarkas di Desa Sendangrejo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Lewat rempah-rempah, Andhika Mahardika memberdayakan sekitar 300 petani di beberapa daerah.
Andhika Mahardika (31) tidak terpesona dengan kemegahan kota besar. Ia memilih tinggal dan mengabdi di desa. Bersama istri dan sejumlah temannya, ia merintis program pemberdayaan petani rempah untuk menciptakan kesejahteraan bersama.
Andhika merupakan pendiri Agradaya, sebuah lembaga yang fokus memberdayakan petani. Lembaga yang dirintis sejak 2014 itu bermarkas di Desa Sendangrejo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Wednesday, May 27, 2020
I Nyoman Sridana, Menyembuhkan Dari Kebun
KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA---I Nyoman Sridana dan contoh berbagai macam tanaman yang bisa dijadikan obat.Bagi I Nyoman Sridana (49), tanah di Bali menyimpan kekayaan berlimpah yang bermanfaat bagi hidup manusia. Sridana sudah memanfaatkan hampir 70 jenis tanaman yang dipercaya berkhasiat untuk pengobatan.
Bagi I Nyoman Sridana (49), tanah di Bali menyimpan kekayaan berlimpah yang bermanfaat bagi hidup manusia. Dari hamparan pertiwi di Pulau Bali, Sridana sudah memanfaatkan hampir 70 jenis tanaman yang diyakini berkhasiat untuk pengobatan.
Askar Daeng, Penggerak Wisata Perdesaan di Sumbawa
ARSIP PRIBADI---Askar Daeng Kamis saat berada di Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa (21/4/2020). Ia menjual pengalaman hidup di desa kepada wisatawan asing.
Askar Daeng berhasil menjual pengalaman hidup di Desa
Labuhan Burung, Sumbawa, sebagai paket wisata yang menarik minat wisatawan
asing.
Askar Daeng Kamis (50) melihat adanya pergeseran pariwisata dari wisata massal ke wisata alternatif dan kini wisata perdesaan. Ia menangkap peluang itu dan mengembangkan wisata perdesaan di Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Modalnya, tradisi dan kehidupan sehari-hari warga.
Tuesday, May 26, 2020
Marwi, Menghijaukan Kembali Hutan di Area Taman Nasional Gunung Rinjani
KOMPAS/KHAERUL ANWAR---Marwi saat ditemui, Rabu (6/5/2020), di Dusun Pemotoh Tengak, Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, sekitar 35 kilometer arah timur Mataram, ibu kota NTB. Ia menggerakkan warga untuk menghijaukan kembali area di Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok.
Marwi berhasil menggerakkan warga untuk menghijaukan kembali area hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Kini, warga mulai menikmati manfaatnya.
Marwi (58) gelisah karena kian gundulnya hutan Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, akibat pembalakan. Ia pun bergerak mengajak warga untuk menghijaukan kembali kawasan hutan itu.
Marwi berhasil menggerakkan warga untuk menghijaukan kembali area hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Kini, warga mulai menikmati manfaatnya.
Marwi (58) gelisah karena kian gundulnya hutan Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, akibat pembalakan. Ia pun bergerak mengajak warga untuk menghijaukan kembali kawasan hutan itu.
Ines Setiawan Melatih Wirausaha Mandiri
ARSIP PRIBADI---Sejak tahun 2014 Ines Setiawan membentuk lembaga wirausaha sosial di bidang pendidikan. Dia melatih banyak orang untuk berwirausaha. Beberapa pelatihan yang dilakukannya, seperti pelatihan pembuatan keju bisa meningkatkan pendapatan banyak orang.
Ines Setiawan menerapkan teori yang dipelajari di kelas dipratekkan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu itu dibagikan ke banyak orang untuk bisa membantu mendirikan wirausaha mandiri.
Ines Setiawan (42) selalu ingin menjadi guru yang tak hanya mengajarkan berbagai teori. Lewat sebuah komunitas wirausaha, dia mengimplementasikan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Semua pelajaran yang diberikan untuk memberdayakan banyak orang.
Ines merupakan guru ilmu pengetahuan alam di sekolah Jerman di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, sejak tahun 2009. Sepanjang kariernya menjadi guru, dia merasa ada batasan kurikulum yang hanya menekankan pada hafalan menjelang ujian dan kurang implementasi dari ilmu yang didapat di kelas pada kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, dia juga merasa guru tidak dapat berkembang di luar kelas karena berbagai alasan seperti takut tidak disukai atasan hingga takut dimutasi.
Ines Setiawan menerapkan teori yang dipelajari di kelas dipratekkan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu itu dibagikan ke banyak orang untuk bisa membantu mendirikan wirausaha mandiri.
Ines Setiawan (42) selalu ingin menjadi guru yang tak hanya mengajarkan berbagai teori. Lewat sebuah komunitas wirausaha, dia mengimplementasikan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Semua pelajaran yang diberikan untuk memberdayakan banyak orang.
Ines merupakan guru ilmu pengetahuan alam di sekolah Jerman di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, sejak tahun 2009. Sepanjang kariernya menjadi guru, dia merasa ada batasan kurikulum yang hanya menekankan pada hafalan menjelang ujian dan kurang implementasi dari ilmu yang didapat di kelas pada kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, dia juga merasa guru tidak dapat berkembang di luar kelas karena berbagai alasan seperti takut tidak disukai atasan hingga takut dimutasi.
Friday, May 15, 2020
Kesetiaan Eliza Najib Melestarikan Hutan
ARSIP PRIBADI---Eliza Najib (47) adalah perempuan tangguh dengan tekad luar biasa untuk menghijaukan kembali hutan dan lahan kritis di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Gerakannya berhasil menghijaukan sekitar 300 hektar hutan di sekitar desanya.
Belasan tahun Eliza Najib menghijaukan lahan-lahan kritis di Sumbawa Barat, NTB. Ia pun menerima Kalpataru pada 2019.
”Saya punya kebun yang saya tanami beragam tanaman. Tujuannya supaya pemilik lahan lain mencontohnya,” ujar Eliza, warga Dusun Tiu Galih, Desa Kemuning, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, Sabtu (25/4/2020). Selama ini, lanjutnya, banyak lahan ditelantarkan sehingga jadi area semak belukar.
Hari itu, Eliza menuntaskan penanaman sengon dan gamal serta pemagaran kebun yang ia kejakan selama satu minggu. Kebun milik pribadi seluas total 7 hektar di Blok Senyiur Kawasan Pengelolaan Hutan Sekongkang itu ia garap sejak 2003. Ia menanam aneka tanaman keras yang bibitnya ia kumpulkan dari pelosoko kampung, hutan, dan lokasi air terjun di desanya. Kadang ia harus berjalan kaki cukup jauh untuk menemukan bibit kayu, seperti jati, ipil, dan lempuyang.
Belasan tahun Eliza Najib menghijaukan lahan-lahan kritis di Sumbawa Barat, NTB. Ia pun menerima Kalpataru pada 2019.
”Saya punya kebun yang saya tanami beragam tanaman. Tujuannya supaya pemilik lahan lain mencontohnya,” ujar Eliza, warga Dusun Tiu Galih, Desa Kemuning, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, Sabtu (25/4/2020). Selama ini, lanjutnya, banyak lahan ditelantarkan sehingga jadi area semak belukar.
Hari itu, Eliza menuntaskan penanaman sengon dan gamal serta pemagaran kebun yang ia kejakan selama satu minggu. Kebun milik pribadi seluas total 7 hektar di Blok Senyiur Kawasan Pengelolaan Hutan Sekongkang itu ia garap sejak 2003. Ia menanam aneka tanaman keras yang bibitnya ia kumpulkan dari pelosoko kampung, hutan, dan lokasi air terjun di desanya. Kadang ia harus berjalan kaki cukup jauh untuk menemukan bibit kayu, seperti jati, ipil, dan lempuyang.
Tuesday, May 12, 2020
Yudhy Ervin dan Iwan Diah, Kawan Otomotif Jaga Bumi
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN---Yudhy Ervin Tiara (kanan) dan Iwan Diah, pendiri gerakan Berani Jaga Bumi.
Inisiatif untuk menjaga bumi kadang muncul dari perasaan bersalah karena kita pernah ikut mengotori bumi.
Inisiatif untuk menjaga bumi kadang muncul dari perasaan bersalah karena kita pernah ikut mengotori bumi. Itulah yang mendorong Yudhy Ervin Tiara dan Iwan Diah bersama kawan-kawannya di Mercedes-Benz Tiger Club membuat gerakan Berani Jaga Bumi.
Tahun 1990, Yudhy (54)—yang 12 tahun tinggal di Jerman—memutuskan pulang ke Indonesia. Betapa kagetnya ketika ia melihat banyak orang membuang sampah ke dalam sungai. Di Jerman, pemandangan seperti itu mustahil bisa ditemukan karena sejak tahun 1980-an masyarakat Jerman terbiasa mengelola sampah dengan baik.
Inisiatif untuk menjaga bumi kadang muncul dari perasaan bersalah karena kita pernah ikut mengotori bumi.
Inisiatif untuk menjaga bumi kadang muncul dari perasaan bersalah karena kita pernah ikut mengotori bumi. Itulah yang mendorong Yudhy Ervin Tiara dan Iwan Diah bersama kawan-kawannya di Mercedes-Benz Tiger Club membuat gerakan Berani Jaga Bumi.
Tahun 1990, Yudhy (54)—yang 12 tahun tinggal di Jerman—memutuskan pulang ke Indonesia. Betapa kagetnya ketika ia melihat banyak orang membuang sampah ke dalam sungai. Di Jerman, pemandangan seperti itu mustahil bisa ditemukan karena sejak tahun 1980-an masyarakat Jerman terbiasa mengelola sampah dengan baik.
Monday, April 27, 2020
Mahmud Tohir, Menyebar Manggis Wanayasa Hingga ke Negeri China
KOMPAS/MELATI MEWANGI---Mahmud Tohir-pembududaya manggis wanayasa
Semangat Mahmud Tohir memperkenalkan manggis (Garcinia mangostana L) wanayasa tak pernah redup. Baginya, manggis bukan sekadar buah, tapi juga warisan hidup dan aset negara yang harus dilestarikan.
Semangat Mahmud Tohir untuk memperkenalkan manggis (Garcinia mangostana L) wanayasa kepada dunia tak pernah redup. Baginya manggis bukan sekadar buah, tapi juga warisan yang harus dilestarikan keberadaannya. Berkat ketekunannya bereksperimen, kini tanaman manggis wanayasa dapat ditanam di sejumlah daerah dengan kualitas yang sama seperti pohon indukan di daerah asalnya.
Semangat Mahmud Tohir memperkenalkan manggis (Garcinia mangostana L) wanayasa tak pernah redup. Baginya, manggis bukan sekadar buah, tapi juga warisan hidup dan aset negara yang harus dilestarikan.
Semangat Mahmud Tohir untuk memperkenalkan manggis (Garcinia mangostana L) wanayasa kepada dunia tak pernah redup. Baginya manggis bukan sekadar buah, tapi juga warisan yang harus dilestarikan keberadaannya. Berkat ketekunannya bereksperimen, kini tanaman manggis wanayasa dapat ditanam di sejumlah daerah dengan kualitas yang sama seperti pohon indukan di daerah asalnya.
Friday, April 24, 2020
Dody Adi Wibowo Meningkatkan Cita Rasa Kopi Lombok
Dody Adi Wibowo pulang ke daerah asalnya untuk menaikkan harkat kopi Lombok. Tak mau setengah-setengah, dia memulai dari hulu, dari mulai budidaya tanaman kopi sampai pascapanen.
KOMPAS/KHAERUL ANWAR--Dody Adi Wibowo mengangkat harkat kopi Lombok sehingga kesejahteraan petani pun meningkat.
Dody Adi Wibowo (38) bercita-cita bisa memandirikan petani kopi di Pulau Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ia mengangkat harkat kopi Lombok dengan terlibat langsung membenahi sektor hulu dari budidaya hingga pengolahan pascapanen kopi.
”Komoditi kopi robusta asal Lombok khususnya memiliki karakter rasa yang menarik apabila penanaman, pemeliharaan, dan pascapanen tepat guna. Makanya, benahi dulu mutu produk, karena konsumen hanya memilih biji kopi berkualitas bagus untuk dijadikan bahan dasar pembuatan kopi,” ujar Dody, warga Komplek Perumahan BTN Gunungsari, Lombok Barat, sekitar 7 kilometer utara Mataram, Ibu Kota NTB, Selasa (14/4/2020).
Tuesday, April 21, 2020
Ahmad Zahidun, Kepala Dusun Buruh Migran
KOMPAS/KHAERUL ANWAR--Ahmad Zahidun, Kepala Dusun Mungkik, Desa Pandang Wangi, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Timur, selalu membantu warganya yang sebagian besar buruh migran untuk mengatasi berbagai masalah, termasuk pendidikan anak buruh migran.
Sebagai mantan TKI, Ahmad Zahidun sangat memahami seluk-beluk kehidupan buruh migran. Dengan segala daya upaya, dia membantu para buruh migran untuk mengatasi berbagai masalah.
Sebagai mantan buruh migran, Ahmad Zahidun (43) paham benar manfaat dan mudarat menjadi buruh migran. Dengan menjadi buruh migran, orang bisa memperbaiki perekonomian keluarga. Di sisi lain, jalan itu bisa memunculkan aneka problem rumah tangga. Zahidun bergerak untuk mengatasi beberapa problem yang dialami keluarga buruh migran di desanya.
Sebagai mantan TKI, Ahmad Zahidun sangat memahami seluk-beluk kehidupan buruh migran. Dengan segala daya upaya, dia membantu para buruh migran untuk mengatasi berbagai masalah.
Sebagai mantan buruh migran, Ahmad Zahidun (43) paham benar manfaat dan mudarat menjadi buruh migran. Dengan menjadi buruh migran, orang bisa memperbaiki perekonomian keluarga. Di sisi lain, jalan itu bisa memunculkan aneka problem rumah tangga. Zahidun bergerak untuk mengatasi beberapa problem yang dialami keluarga buruh migran di desanya.
Kuntjoro Basuki Dhiya’uddin Siapkan Nelayan Modern dari Puger
ARSIP SMK PERIKANAN DAN KELAUTAN PUGER--Kuntjoro Basuki Dhiya’uddin
Kuntjoro Basuki Dhiya'uddin bermimpi menciptakan nelayan-nelayan muda modern yang punya karakter, keahlian, dan penguasaan teknologi bertaraf internasional.
Kuntjoro Basuki Dhiya’uddin punya impian mencetak nelayan-nelayan muda yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Impian itu coba ia wujudkan dengan mendirikan SMK Perikanan dan Kelautan Puger di Jember, Jawa Timur
Sekolah yang berada di sekitar perkampungan nelayan tersebut kini berkembang pesat ketika dimulai tahun 2000. SMK Perikanan dan Kelautan Puger jadi salah satu sekolah kejuruan rujukan jurusan kemaritiman di tingkat nasional.
Kuntjoro sering diundang ke Jakarta untuk menyuarakan pentingnya memprioritaskan pendidikan di sekolah kejuruan kemaritiman. Dia diundang sebagai narasumber bagi sejumlah kementerian terkait, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Koordinator Kemaritiman. Sekolah swasta ini juga sering diundang untuk ikut pameran di tingkat nasional yang menampilkan keunggulan dari lulusan berkarakter, kerja sama yang erat dengan dunia industri, hingga produk pengolahan ikan.
Kuntjoro Basuki Dhiya'uddin bermimpi menciptakan nelayan-nelayan muda modern yang punya karakter, keahlian, dan penguasaan teknologi bertaraf internasional.
Kuntjoro Basuki Dhiya’uddin punya impian mencetak nelayan-nelayan muda yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Impian itu coba ia wujudkan dengan mendirikan SMK Perikanan dan Kelautan Puger di Jember, Jawa Timur
Sekolah yang berada di sekitar perkampungan nelayan tersebut kini berkembang pesat ketika dimulai tahun 2000. SMK Perikanan dan Kelautan Puger jadi salah satu sekolah kejuruan rujukan jurusan kemaritiman di tingkat nasional.
Kuntjoro sering diundang ke Jakarta untuk menyuarakan pentingnya memprioritaskan pendidikan di sekolah kejuruan kemaritiman. Dia diundang sebagai narasumber bagi sejumlah kementerian terkait, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Koordinator Kemaritiman. Sekolah swasta ini juga sering diundang untuk ikut pameran di tingkat nasional yang menampilkan keunggulan dari lulusan berkarakter, kerja sama yang erat dengan dunia industri, hingga produk pengolahan ikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)














